SEJARAH DESA
Desa Sawocangkring merupakan salah satu Desa yang berada wilayah Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo yang Masyarakatnya bermata pencaharian di bidang pertanian, industri rumah tangga Sepatu, Sandal, Blangkon, Baju Adat, Kue Kering, Kuliner, Bengkel Las dan yang mempunyai dengan karakter masyarakat sesuai adat timur yaitu sopan, beretika dan religius, jumlah penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun sehingga merupakan daerah yang berpenduduk padat dengan tingkat pendidikan yang bervariasi mulai tamat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, tingkat kesehatan masyarakat Desa Sawocangkring cukup baik karena ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai serta kesadaran masyarakat yang cukup tinggi tentang arti kesehatan. Jarak desa Sawocangkring ke Kecamatan Wonoayu yang relatif dekat sehingga mempengaruhi pola dan tingkah laku masyarakat Desa. Desa Sawocangkring terdiri dari 3 (tiga) Dusun, yaitu Dusun Sawo, Dusun Cangkring, dan Dusun Lumbang yang mempunyai adat dan cerita yang berbeda – beda.
1. DUSUN SAWO
Pada waktu itu dipimpin seorang lurah yang bernama Imam Rejo yang sampai sekarang diabadikan jadi nama jalan utama didusun sawo yaitu jalan Imam Rejo yang berada didepan SD keselatan yang dulunya banyak pohon sawo.

Gambar Pohon Sawo

Gambar Makam Leluhur Dusun Sawo
2. DUSUN CANGKRING
Cangkring, atau dadap duri adalah sejenis pohon dari genus Erythrina, suku Fabaceae. Pohon ini juga memiliki nama lain seperti galada ayer, cengkering, chengkring, dedap duri, dadap petis, dadap cucuk, dadap rangrang, dadapcangkring, dadapri, cangkering, rope, kane, rase, ngareer.

Gambar Pohon Cangkring
Cangkring merupakan tanaman sejenis pohon dadap dimana pohon dan batang rantingnya penuh dengan duri duri besar dan tajam, pohon ini dapat tumbuh mencapai 10-20 meter. Pohon ini memiliki ciri khas yakni menggugurkan daunnya setiap satu tahun sekali. Setelah semua daunnya berguguran beberapa waktu kemudian daun pohon cangkring akan bersemi kembali dan berbunga. Bunga pohon cangkring berwarna merah cerah, oleh masyarakat setempat bunga pohon cangkring juga disebut dengan bunga kecilung (Bhs Jawa) adapun batangnya cenderung berwarna cokelat dan keabu-abuan serta berkulit kasar.

Gambar Bunga Cangkring
Dukuh ini disebut dengan dukuh cangkring karena di zaman dahulu ketika belum banyak penghuninya, hampir seluruh wilayah dukuh cangkring dipenuhi dengan pohon cangkring. Oleh karena itu masyarakat menyebut wilayah ini disebut dukuh cangkring.
Selain sejarah tersebut diatas dukuh cangkring juga termasuk pedukuhan yang memiliki banyak keunikan tersendiri yakni:
- Memiliki makam yang letaknya strategis karena berada tepat di tengah dusun atau jantung dusun.
- Makam dukuh cangkring terletak di areal tanah yang datarannya paling tinggi jika dibandingkan dengan tanah sekeliling makam tersebut.
3. DUSUN LUMBANG
Pada waktu itu dipimpin seorang lurah yang bernama Jogo Mulyo, konon daerah ini indentik dengan lumbung padi warga yang sangat banyak dan belumbang sehingga warga sekitar menyebut daerah tersebut dengan dusun Lumbang, belumbang tersebut diberi nama “Telaga Mulya”.
.png)
Gambar Telaga Mulya
Sejarah berawal dari seorang utusan dari Kerajaan Jenggolo yang berpusat di Kahuripan ( Sidoarjo ), untuk menjaga sebuah kawasan yang sangat subur dan menghasilkan padi unggulan yang dikenal dengan Mbah SENTONO, beliau ditemani seorang Abdi yang bernama Mbah KERTO. Mbah Sentono adalah seorang yang sakti mandra guna saking saktinya, beliau menancapkan tombaknya, secara ajaib seketika beruba menjadi belumbang yang besar / telaga yang sampai saat ini masih ada, sebagai simbol kejayaan dan kemakmuran, juga sebagai sumber kehidupan masyarakat terutama untuk pengairan sawah agar tetap terjaga keunggulannya.

Gambar Makam Mbah Sentono
Disekitar belumbang tersebut banyak berdiri lumbung- lumbung padi milik masyarakat, yang akhirnya kawasan tersebut dikenal dengan nama “LUMBANG” karena dengan indentik dengan belumbang dan lumbung.
Diketahui Mbah SENTONO memegang penuh kekuasan diwilayah Sawocangkiring yang menetap di dusun Cangkring serta mengutus seorang abdi untuk menjaga di kawasan Lumbang yang sekarang oleh masyarakat dikenal oleh Mbah KERTO.
Tak jauh dari Cangkring dan Lumbang ada seorang ulama’ yang bernama Kyai NASRUN beliau tinggal di daerah yang banyak pohon sawo, akan tetapi beliau belum memberi nama daerah tersebut, pada suatu saat Mbah Sentono, Mbah Kerto dan Kyai Nasrun berkumpul untuk memberi nama daerah tersebut akhirnya mbah Sentono dan mbah Kerto mengusulkan nama sawo dan Kyai Nasrun menyetujuinya.
Pada jaman pemerintahan Belanda, dibentuklah pemerintahan desa yang lurah waktu itu bernama SINGOJOYO. Karena terdiri dari beberapa pedukuhan beliau mengusulkan agar pedukuhan Sawo, Cangkring, Lumbang digabung menjadi satu desa. Setelah musyawarah dengan penduduk setempat akhirnya disepakati penggabungan tersebut, dan desa itu disebut dengan nama desa SAWOCANGKRING pada tahun 1928.
Satu lagi yang menjadi pertanyaan, menurut cerita makam kyai Nasrun berada didusun Sawo. Namun ada juga yang menyatakan makam beliau ada di Surabaya tepatnya di desa Kedung Cowek atau disebut ngeramat.
SEJARAH PEMERINTAHAN DESA
Desa mempunyai sejarah kepemimpinan Desa yang dahulu seorang pemimpin desa disebut Lurah dan sekarang telah diganti nama dengan Kepala Desa sesuai dengan peraturan pemerintah, adapun sejarah kepemimpinan Desa adalah sebagaimana tersebut dibawah ini :
|
1905 – ….. |
- Pimpinan Pertama Dusun Sawo adalah Mbah Imam Rejo. - Pimpinan Pertama Dusun Cangkring adalah Mbah Bintoro. - Pimpinan Pertama Dusun Lumbang adalah Mbah Jogo Mulyo. Pada Tahun 1928 terjadi penggabungan ketiga Dusun (Dusun Sawo, Dusun Cangkring, Dusun Lumbang) Menjadi Desa Sawocangkring. Kepala Desa pertama pada tahun 1930 adalah Bapak SINGO JOYO. |
|
1930 – …… |
Kepala Desa pertama Bapak Singo Joyo |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Jono |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Dul Kornaen |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Sari Kerto |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Mangu Sedono |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Dul Majid |
|
…… |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Hasan Muhadi |
| 1982 - 1993 | Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Abdullah Mansur |
| 1993 - 2010 | Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Abdul Fatah |
|
2010 - 2022 |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Sugito |
|
2022 - sekarang |
Kepala Desa selanjutnya yaitu Bapak Mukhamad Nursiyo |
Nara Sumber : 1. Bapak H. Asmui Sudarjanto, 2. Bapak H. Abdul Djalal
SEJARAH PEMBANGUNAN DESA
Desa Sawocangkring merupakan wilayah daerah dataran dengan Masyarakat bermata pencaharian beragam, mulai dari pertanian, industri sepatu, sandal, serta perdagangan. Posisi Desa Sawocangkring berbatasan langsung dengan :
- Sebelah Timur, Desa Wilayut Kecamatan Sukodono
- Sebelah Selatan, Desa Wonokasian Kecamatan Wonoayu
- Sebelah Barat, Desa Becirongengor dan Desa Lambangan Kecamatan Wonoayu.
- Sebelah Utara, Desa Pademonegoro Kecamatan Sukodono
Jarak dari Pusat Pemerintahan Desa ke Kecamatan ± 4 Km dan ke Kabupaten Sidoarjo ± 12 Km. Pada zaman penjajahan sarana dan prasarana pada waktu itu masih kurang memadai.
Dari kurun waktu yang begitu lama pembangunan yang dibangun masing – masing Kepala Desa pada waktu menjabat mulai menunjukkan kemajuan.
Dalam hal ini Desa, diharapkan akan terwujud koordinasi yang semakin baik, terciptanya Integrasi, Sinkronisasi, dan Sinergi antar pelaku pembangunan (stakeholders) antar ruang, antar waktu, antar fungsi pemerintahan maupun dengan Kabupaten dengan Provinsi dan Pusat, diharapkan pula akan terbangun keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan. Pada sisi yang lain mampu mengoptimalkan partisipasi. (SIN)